SOLO – Sebanyak 23 mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP), Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret melakukan kunjungan edukatif ke Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia atau di singkat LPP RRI Surakarta pada Rabu (22/4/2026) pukul 08.30 – 10.30 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Jurnalistik Pertanian yang bertujuan memberikan pemahaman langsung tentang dunia jurnalistik radio.
Kunjungan ini disambut hangat oleh Sri Sulastri, S.Sos yang mewakili pimpinan RRI Surakarta. Ia menjelaskan bahwa RRI Surakarta memiliki enam bidang utama, yaitu tata usaha, penyiaran, pemberitaan, TMP, KMB, dan LPU, dengan jumlah pegawai sekitar 130 orang. Dosen pengampu mata kuliah, Bu Hanifah, S.P., M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk menambah wawasan mahasiswa. “Kegiatan ini penting agar mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana dunia jurnalistik bekerja,” ujarnya. Ia juga mengingatkan semboyan RRI, yaitu “Sekali di udara, tetap di udara.”

Materi jurnalistik disampaikan oleh Lidia Sinaga selaku redaktur pemberitaan RRI Solo. Ia menjelaskan bahwa berita radio bukan hanya sekadar teks, tetapi juga mengandung suara, emosi, dan kecepatan. “Berita radio harus cepat dan dekat dengan pendengar, tidak hanya sekadar dibaca,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berita radio memiliki beberapa karakteristik, seperti bersifat sekilas, imajinatif (theater of mind), dan personal sehingga terasa dekat dengan pendengar. Mahasiswa juga dikenalkan dengan alur produksi berita, mulai dari perencanaan melalui rapat redaksi, peliputan di lapangan, penulisan naskah, proses editing dan mixing suara, hingga akhirnya disiarkan kepada pendengar. Dalam satu siaran berita, biasanya terdapat sekitar 10 berita dengan durasi total 30 menit.

Dalam penulisan berita radio, digunakan teknik easy listening, yaitu kalimat singkat, jelas, dan mudah dipahami. “Gunakan bahasa yang sederhana dan tidak berbelit-belit agar mudah dipahami pendengar,” jelasnya. Struktur berita radio terdiri dari pembuka (lead), isi berita yang memuat unsur 5W+1H, soundbite atau suara narasumber, serta penutup. Selain itu, jurnalis juga harus memegang kode etik jurnalistik seperti independen, akurat, berimbang, dan tidak merugikan pihak lain.
Di era digital, jurnalis dituntut untuk multitasking, seperti merekam, menulis berita, hingga mengelola media sosial. RRI sendiri kini tidak hanya hadir melalui siaran radio, tetapi juga melalui platform online. Kuncoro selaku editor berita online menjelaskan bahwa jurnalistik berbeda dengan opini. “Jurnalistik harus berdasarkan fakta dan data yang jelas, sedangkan opini adalah pendapat pribadi,” ujarnya. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Mahasiswa menanyakan berbagai hal, mulai dari strategi RRI menghadapi perkembangan teknologi hingga cara menjaga akurasi berita. Pihak RRI menjelaskan bahwa mereka terus beradaptasi dengan perkembangan zaman serta melakukan verifikasi berita secara ketat untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Selain mendapatkan materi, mahasiswa juga diajak berkeliling untuk melihat langsung berbagai ruang dan fasilitas di RRI Surakarta. Mereka mengunjungi ruang siaran, ruang redaksi, hingga area produksi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana penyiar bekerja, bagaimana proses editing dilakukan, hingga bagaimana sebuah berita siap disiarkan. Dengan melihat langsung, mahasiswa jadi lebih paham bahwa jurnalistik adalah kerja tim.
Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata bahwa dunia jurnalistik tidak hanya teori, tetapi juga praktik di lapangan. Melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan informasi, khususnya di bidang pertanian, secara menarik, mudah dipahami, dan dapat dipercaya oleh masyarakat. (Naskah ini disusun oleh Fanya Elesya Hanindhita, Ilham Prisma Setiadi, Nasiroh Nur Mufidah, Syafira Indah Santosa).
